You need to enable javaScript to run this app.

Karya-Karya Siswa dalam Gerakan Literasi Berbasis Digital

Karya-Karya Siswa dalam Gerakan Literasi Berbasis Digital

Repost:

Siswa kelas 7 SMPN 2 Jumantono yang mengikuti Gerakan Literasi Berbasis Digital (GLDB) diharapkan bisa membuat karya yang pada akhirnya bisa diapresiasi oleh temannya dan orang lain. Mereka sudah membuat karya puisi yang dibuat menjadi e-book. E-book itu berjudul Bangkit Negeriku. E-book ini memuat 120 puisi hasil karya siswa kelas 7 SMP Negeri 2 Jumantono. 120 Puisi tersebut dibagi menjadi empat tema, yaitu Covid-19, Semua tentang Negeriku, Kepahlawanan, dan Religius.

E-book antologi puisi Bangkit Negeriku dapat dibaca langsung di bawah ini.

Selain membaut karya puisi, siswa kelas 7 SMP Negeri 2 Jumantono juga dibebaskan untuk membuat karya lain, seperti pantun, puisi tema bebas, dan cerpen. Nah, inilah beberapa hasil karya mereka dalam rangka mendukung Gerakan Literasi Berbasis Digital.

Cerita Pendek (Cerpen) Gerakan Literasi Berbasis Digital

 

Kisah Bening Murid yang Selalu Di-bully

Karya: Margareta Putri Anjani (7B)

Pagi ini terlihat seorang gadis terbangun dari tidurnya. Sedikit terlambat dari biasanya karena ia tidur lebih larut semalam. Gadis mungil ini bernama Bening. Nama yang sungguh kontras dengan keadaan fisiknya saat ini. Bagaimana tidak? Ia adalah gadis berkulit gelap dengan surai bergelombang. Ia berpikir mengapa bisa orang tuanya memberikan nama yang jauh dari penampilannya. Tidak, Bening tidak sama sekali menyalahkan orang tuanya karena menamakan dirinya seperti itu. Hanya saja, ia heran mengapa orang tuanya memberikan nama kuno di zaman semodern ini.

Bening lebih memilih untuk menyiapkan dirinya sebelum pergi ke sekolah, Bening hanyalah anak yang sederhana, ia melakukan pekerjaan rumah sendiri, karena orang tuanya sudah tiada.

Di saat Bening menginjakkan kaki di halaman sekolahnya, Bening menghela napas kasar. Jangan berharap kehidupan sekolah Bening akan sama seperti anak-anak sekolah pada masanya, Bening berbeda. Bening selalu bersabar menanggapi semua teman yang mem-bully-nya.

"Eh si kribo udah dateng, makin bening aja ni bocah" kata seorang siswa saat Bening baru saja memasuki kelas.

Hal itu tentunya di sambut tawa seluruh kelas.

"Nama doang Bening, aslinya mah enggak ada bening-beningnya" lanjut Riki, teman sekelasnya yang akan maju nomor satu untuk membuli Bening dan kembali terdengar gelaran tawa yang semakin keras.

Bening hanya diam saja mendengar cemoohan teman-temannya itu, mereka akan berhenti membuli Bening saat pelajaran berlangsung.

Sepulang sekolah merupakan hal biasa bagi Bening untuk berjalan ke rumahnya dengan perut keroncongan. Tentu saja ia tidak makan saat jam istirahat tadi. Bening sebenarnya tidak hanya dibuli di kelasnya saja, tetapi seisi sekolah membulinya. Oleh karena itu, Bening hanya berada di kelas selama jam istirahat. Ia lebih memilih untuk menahan lapar daripada mendengar cemoohan seisi sekolah.

"Ayah, mengapa dunia sangat kejam pada Bening? Ibu, Bening punya salah apa kepada mereka? kenapa mereka jahat ke Bening?" tutur Bening pelan. Air mata pertamanya pun menetes mengingat dunia sangat kejam padanya.

Siang ini, Bening tidak langsung pulang ke rumah. Seperti biasa Bening ke tempat d imana ia sering menenangkan diri. Di sebuah pantai dengan pemandangan indah, Bening menemukan tempat itu saat ia mencari kayu bakar seminggu yang lalu. Tempatnya cukup tersembunyi, di balik dahan pohon besar yang jalan masuknya tertutupi rimbunnya daun pohon. Mungkin tidak banyak orang yang tahu tempat ini karena sejak awal ia pergi ke tempat itu. Ia tidak menemui siapapun di situ. Bening duduk di tengah-tengah putihnya pasir pantai

Lamunan Bening buyar seketika saat ada sebuah tangan yang memegang pundaknya. Ia refleks menoleh ke belakang dan ternyata itu tangan seorang gadis.

"Hei, kamu menangis?" tanyanya. Bening pun segera menghapus jejak air matanya. Gadis itu duduk di samping Bening.

"Maaf tadi aku ikutin kamu soalnya sudah beberapa hari aku melihatmu masuk ke sini sendirian, kamu kenapa?" tanya gadis itu kembali.

Tapi Bening bukanlah tipikal orang yang akan langsung memberitahu masalahnya pada orang asing. Namun, sepertinya gadis itu juga bukanlah tipikal orang yang mudah menyerah. Mau tidak mau Bening menceritakan masalahnya pada si gadis itu.

Gadis itu menyimak setiap kata yang terucap pelan dari bibir Bening dan tersenyum saat Bening tidak lagi mengucapkan kata.

"Emang nama kamu siapa?" gadis itu kembali bertanya.

"Bening," jawab Bening singkat.

Gadis itu kembali tersenyum.

"Ih, nama kamu bagus loh, kaya pantai ini," kata gadis itu sambil merawang jauh ke lautan.

"Aku tahu kamu kaya gitu, jangan didengerin ya temen-temenmu itu, lagian orang tuamu bener kok memberi nama itu." S

ontak Bening mengerutkan dahinya, menatap gadis itu yang kembali melanjutkan kalimatnya yang terpotong tadi.

"Hatimu sejernih air pantai, kamu gadis baik berhati suci seperti pasir pantai ini, bahkan rambutmu bergelombang seperti ombak, kamu benar-benar deskripsi dari pantai ini bening, pantai seindah ini,” kata gadis itu panjang lebar. Bening terkejut mendengar celotehan gadis itu, lamu memikirkan kata demi kata yang terucap dari mulut gadis itu.

Ia sadar ternyata nama sederhana pemberian orang tuanya ini bermakna indah, tidak seperti yang ia bayangkan selama ini.

"Berkat kamu aku tahu tempat seindah ini, terima kasih banyak ya," lanjut gadis itu.

"Aku yang seharusnya berterima kasih padamu," jawab Bening.

Ia sadar ternyata di setiap nama pasti tersirat arti yang diharapkan sang orang tua untuk kehidupan setiap anak dan Bening baru menyadarinya. Berkat kejadian ini Bening menjadi lebih percaya diri. Ia tidak lagi mempedulikan perkataan teman-temannya, bahkan ia mendapat teman pertamanya, ya mereka memutuskan untuk berteman. Semenjak kejadian itu, pantai yang tadinya menjadi tempat untuk Bening merenung setiap masalahnya, beralih menjadi markas rahasia Bening dan Hasna, gadis yang ia temui di pantai itu.

"Terima kasih Hasna," kata Bening tersenyum.

Study Tour ke Jogja

Karya: Dina Agustina (7D)

 Dulu saat aku kelas 5 SD aku study tour ke Jogja dengan tujuan Museum Gunung Merapi, Museum Dirgantara, dan Pantai Parangtritis. Aku dan rombongan berangkat pada pukul 07.00 dan saat di perjalanan aku mabuk karena tidak tahan dengan suhu AC bus. Tak lama kemudian sekitar perjalanan 3 jam aku tiba di tujuan pertama, yaitu Museum Gunung Merapi.

 

Aku beserta rombongan tiba pukul 10.00, lalu masuk ke dalam museum dan kita banyak mengetahui fosil zaman dahulu kala. Tak lama kemudian kita pindah ke tujuan kedua, yaitu Museum Dirgantara dan isoma terlebih dahulu sekira pukul 12.00. Di sana terdapat banyak pesawat TNI angkatan udara Yogyakarta yang dijadikan koleksi sejarah.

 

Pada pukul 14.00 kita keluar museum dilanjutkan ke tujuan terakhir, yaitu Pantai Parangtritis. Kita tiba pukul 15.25. Kami semua turun dan langsung menuju pantai untuk bermain dengan air. Tak lupa diabadikan dengan foto bersama guru-guru. Waktu terasa cepat berlalu dan kita pulang pada pukul 18.00. Kita tak lupa mampir toko oleh-oleh. Kita semua merasa senang dan banyak mengetahui pengetahuan sosial dari study tour ini.

 

Kebun Teh Puncak Kemuning

Karya Fingky Diyah Anggraini (7B)

 

Pada hari itu aku dan keluarga berwisata ke kebun teh yang berada di daerah Kemuning. Pada waktu perjalanan aku melihat sekelilingku yang amat elok keindahannya. Di sana banyak tanaman dan bunga-bunga yang tumbuh dengan subur. Pemandangannya semakin asri setelah sampai. Akhirnya aku naik ke atas bukit yang bernama bukit Teletubies.

Di sana aku melihat banyak Teletubies yang sedang menghibur para wisatawan. Aku pun melihat ke langit banyak para pelayang yang terbang ke atas bukit. Dari atas bukit terlihat banyak sekali tanaman teh yang senantiasa melindungi bukit-bukit yang berada di sekitar puncak.

Pada waktu itu aku pun tidak lupa untuk menelusuri keaslian dan keindahan dari bukit tersebut banyak nya tanaman teh dan bunga" nya menambahkan suasananya semakin asri cuaca nya yang menyejuk kan dan suara rincihan burung" yang berkicau membuat kebun teh semakin indah dan asri.

 

Puisi-Puisi Gerakan Literasi Berbasis Digital

Corona

Karya Adelia Alexsa Andrianisa (7B)

 

Corona

Kau berasal dari negara China

Kau kecil dan tidak terlihat

Tetapi kau sangat berbahaya

Semua orang takut kepadamu

 

Corona

Mengapa kau datang ke bumi ini

Menyebarkan kekhawatiran dan rasa gelisah

Membuat banyak orang menderita

Membuat banyak orang kehilangan nyawa

 

Corona

Kau membuat kami bosan di rumah

Tidak bisa sekolah dan tidak bisa bekerja

Membuat kami saling membangun rasa curiga

Dan membuat kami saling berjauhan

 

Corona

Cepat pergilah dari bumi

Agar pandemi ini segera berakhir

Agar kami bisa beraktivitas seperti biasa lagi

Pergilah corona

  

Guruku

Karya Endah Wulandari (7D)

 

Guruku...

Engkau yang telah mengjarkan kepada kami.

Bagaimana cara membaca dan menulis.

Karenamu kami paham banyak hal.

 

Guruku...

Engkau adalah orangtua kami disekolah.

Engkau pantas untuk dihormati.

Engkau pantas untuk dipuji.

 

Guruku...

Jasa-jasamu tidak akan pernah kami lupakan.

Muridmu akan selalu mendoakanmu di setiap sujudnya.

Terima kasih telah membimbing kami sehingga menjadi anak-anak yang lebih baik.

 

Corona

Karya Ayu Atri Prihatin (7D)

 

Gemamu menggaung ke penjuru dunia

Bahkan tak peduli pada negara adikuasa

Hingga menyelinap kepelosok desa

Adalah pesan yang kau bawa

              

Mungkin manusia ini butuh peringatan

Mungkin juga sebuah teguran

Dengan semua kelalaian dan kesombongan

Tak ada lagi sosialisasi

   

Semua kini saling menjahui

Lalu lalang hilang

Tawa ruang usang

Corona datang disambut sebagai pecundang

    

Corona......

Biarlah hadirmu menyemai setiap hati

Agar lebih banyak musahabah diri

Dengan semua kesalahan dan dosa selama ini

 

Jika bekal tak seberapa

Akan terus mengiba

Agar diberi waktu ‘tuk beramal

Menghadap dengan selamat

 

Sajak-sajak terbaca berisi jutaan pengharapan

Semoga prahara ini cepat berlalu

Dari bumi pertiwi

Yang kucintai selalu

 

Harta warisan

Karya Yulia Murti (7C)

 

    Lihatlah diirimu

       Seorang kancil rela mati

          Hanya demi harta tambangnya

            Ditendang, dilempar, disiksa, sadis

 

Hingga lepas jiwa dari raganya

Lihatlah mereka

Hancurkan mereka

Pembunuh licik

 

Pencuri munafik

Mengapa kalian hanya menonton

Kalian siapa?

Apa kalian hanya bisa  diam

 

Apa kalian lumpuh

Apa buta? tuli?

Hhhhh.......

Sekarang lihatlah kananmu

 

Gerombolan balita tersiksa

Tak dapat napas

"Sesak dada  ini ibu”

 Namun, ibu sudah pergi kembali

 

"Lalu dengan siapa aku ibu?,

Para berandal pendosa itu

Telah merusak hutan kita

Memusnahkan masa depanku,ibu kemana?

 

Sadarlah kalian para  pemburu  harta

Buka mata, pakai otak

Jangan habiskan harta warisan kami

Kami masih butuh, masih mau ingin hidup seribu tahun lagi

 

Pantun Gerakan Literasi Berbasis Digital

 

Pantun Karya Aida Nur Aini (7D)

Ambillah Al-qur'an di lemari masjid

Ambillah untuk dibaca

Jadi orang harus ngaji di masjid

Agar kelak diakhirat di surga

 

Pantun Karya Nadia Salza Billa (7D)

Jalan-jalan ke surabaya

Pulangnya naik angkot

Buanglah sampah pada tempatnya

Agar lingkungan tetap sehat

 

Pantun Karya Anggita Febriyanti (7A)

Buah markisa buah semangka

Sambil melihat nona yang merona

Ikuti protokol pemerintah

Agar tak kena Virus Corona

 

Malam minggu nonton diary Sarah

Sambil rebahan sambil berjaga

Kalau diberi imbauan pemerintah jangan marah

Selalu pakai masker agar tetap terjaga

 

Pagi-pagi pergi naik becak

Ibu kepasar membeli tomat

Jumlah positif Corona semakin melonjak

Tetap dirumah agar selalu selamat

 

Ibu pergi kehutan

Dijalan bertemu kelinci

Tetap ikuti protokol kesehatan

Agar Corona segera lenyap dari bumi

 

Pantun Karya Adelia Alexsa Andrianisa (7B)

Mengambil baju di dalam loker

Jangan lupa mengambil celana

Ingat selalu memakai masker

Agar terhindar dari corona

 

Pergi ke pasar membeli ketan

Ketannya dibuat bolu

Patuhi protokol kesehatan

Agar kita sehat selalu

 

Pantun Karya Arthalita Naya (7C)

Jalan-jalan ke Samarinda

Jangan lupa membeli bawang

Wahai guruku tercinta

Jasamu selalu kukenang

 

Pakai baju warna biru

Pergi ke sekolah pukul tuju

Ku tuntut ilmu dari guru

Untuk meraih cita-citaku

 

Buah duku

Buah belimbing

Engkau guruku

Seorang pembimbing

 

Pantun Karya Andhika Candra (7D)

Pergi ke pasar bersama Rani

Tidak lupa untuk membeli sayur

Nikmati lah rezeki setiap hari

Allah sayang orang yang bersyukur

Lebih baik makan cokelat

Daripada makan ubi

Lebih baik sholat

Daripada berjudi

Bagikan artikel ini:

Beri Komentar